Tampilkan postingan dengan label Humor Segar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Segar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

Takut

Takut

BU Ani terkejut ketika melihat anaknya lari terbirit-birit.

"Kenapa mukamu merah begitu, Eko?"

"Saya baru saja lari kencang untuk menghentikan perkelahian, Bu."

"Kamu memang anak baik. Siapa yang berkelahi?"

"Saya dengan Bambang, Bu!"

Ning Nong

Ning Nong

SARMIN baru sekali ini ke Jakarta. Maklum dia baru saja menjual hasil
panennya, jadi sekali-sekali ingin menikmati pelesiran di ibu kota. Untuk
oleh-oleh para sanak saudara di kampung dia berniat membeli beberapa barang.
Suatu hari dia pergi ke Mangga Dua, karena katanya apa-apa murah disana.
Setelah berkeliling, mampirlah dia ke sebuah kios pakaian. Pemilik kios itu
adalah seorang Cina totok. "Berapa baju yang ini?"

"Ha-yya, GO CENG saja lah!"

Berkerut jidat Sarmin, karena tak tahu berapa GO CENG itu. Si empunya kios
karena melihat Sarmin terdiam lantas berkata: "Boleh tawal lah dikit."

Karena sudah terlanjur bertanya, untuk menjaga gengsi, dengan mantapnya
Sarmin menawar: "NING NONG boleh nggak?"

"Haa?" terbelalak si engko. "Belapa itu Ning nong?"

"Lha GO CENG itu berapa hayo?" Sarmin balik bertanya.

"Go ceng itu lima libu woo!" jawab si engko.

Setelah berpikir sebentar Sarmin pun bilang: "Ooo, kalau begitu, Ning Nong
itu yaa..... kira-kira tiga ribu lima ratus lah!"

Anak Pengemis

Anak Pengemis

SEORANG mahasiswa baru terlihat lagi asyik ngobrol dengan seorang pengemis
di sebuah halte bus di kampus sebuah universitas. Mahasiswa : "Udah lama
ngemis di sini Pak?"

Pengemis : "Kurang lebih sudah 8 tahun Dik!"

Mahasiswa :"Lama juga ya Pak. Sehari biasanya dapet uang berapa Pak?"

Pengemis : "Paling sedikit gocap (50.000,00) Dik"

Mahasiswa : "Banyak juga ya Pak!?"

Pengemis : "Lumayanlah untuk keluarga."

Mahasiswa : "Ngomong-ngomong keluarga bapak ada di mana?"

Pengemis : "Anak saya semuanya ada 3, yang ke-1 di UGM Yogya, yang ke-2 di
ITB Bandung, dan yang ke-3 di IPB bogor."

Mahasiswa : "Hebat banget nih Bapak..eh.. Anak bapak itu semuanya kuliah ?"

Pengemis : "Nggak semuanya ngemis seperti saya."

Dua Jam

Dua Jam

DI ruang praktik dokter, seorang pria bertanya pada dokternya.

"Dokter. Bagaimana tanda-tanda ketuaan itu?"

"Tandanya jika Anda butuh waktu dua jam untuk memakai pakaian, dan dua jam
untuk mengingat mengapa Anda memakai pakaian!" (jang)**

BERPENDIRIAN

 BERPENDIRIAN

DUA orang kenalan bertemu setelah beberapa tahun tidak jumpa.

"Berapa umurmu sekarang?"

"Empat puluh tahun."

"Lho, ketika kita bertemu dua tahun yang lalu Anda bilang empat puluh
tahun?"

"Ya itulah buktinya saya seorang yang punya pendirian!"

Staring

"Staring"

IJEM selalu pergi meninggalkan TV tiap kali ada film barat. Majikannya heran
melihat tingkahnya itu.

"Kenapa kamu selalu pergi tiap ada film barat?" tanya majikannya

"Bosan Bu. Habis tiap film pemainnya selalu si "Staring".

IKAN PAUS

IKAN PAUS


DUA orang nelayan dan temannya sedang memperhatikan seekor ikan paus yang
mati terdampar.

"Kasihan nasib ikan paus itu, dia mati terdampar di pantai ini," ujar salah
seorang nelayan.

"Yang lebih kasihan adalah si penggali kuburnya," sambung nelayan satunya
lagi.

Rabun

Rabun

KARYO yang sudah agak rabun penglihatannya jalan-jalan ke kebun binatang.
Sampailah ia di depan kandang beo. Berhubung belum pernah melihat beo, dia
pun mendekatkan kepalanya ke kandang.

"Ngapain kamu dekat-dekat?" kata si beo yang rupanya sudah mahir berbicara.

"Oh maaf, saya kira bapak ini seekor burung!" jawab Karyo sambil buru-buru
meninggalkan kandang burung.

Calon Pembantu

Calon Pembantu

SEORANG Wanita sedang mewawancarai calon pembantu rumah tangganya yang baru,
Calon pembantu itu diminta menceritakan pengalaman kerjanya selama ini dan
menunjukan referensi yang dimilikinya,

"Sayang sekali, Bu. surat keterangan bekerja dari keluarga presiden sudah
hilang. Tetapi, saya masih menyimpan beberapa buah sendok sebagai bukti saya
pernah bekerja di sana," ungkap calon pembantu itu.

Anak Jujur

Anak Jujur

PADA sore hari si Udin kepergok Pak Wawan pemilik kebun rambutan di sebelah
timur desa, lalu Pak Wawan bilang, "Dasar kamu mungkin selama ini setiap
kali saya panen saya kehilangan banyak rambutan, jadi pelakunya kamu?"

Dengan ketakutan si Udin menjawab, "Maaf Pak, saya selama ini cuma ngambil
rambutan yang jatuh, tetapi di atas Bapak saya yang ngarungin". (zam)**

Kondisi

Kondisi

"DOKTER! tolonglah saya, saya kehilangan memori. Saya dahulu adalah
pengusaha sukses. Tetapi, sejak memori saya hilang, saya kehilangan
segalanya. Saya ditinggal keluarga saya karena lupa nama anak istri saya.
Saya lupa nama relasi bisnis saya. Saya tidak ingat lagi bahwa saya sudah
lima hari tidak pulang ke rumah. Saya tidak ingat lagi berapa uang yang saya
miliki, pokoknya semuanya semakin memburuk. Dokter tolonglah saya Dokter,"
kata seorang lelaki kepada psikiater.

"Baik saya akan coba tolong, sudah berapa lama Anda mengalami kondisi
seperti ini?" tanya dokter. "Kondisi? Apa itu kondisi?" kata si lelaki.
(zam)**

Perlu Dicat

Perlu Dicat

SEORANG pasien selama hampir dua puluh lima menit dibiarkan tergeletak di
ranjang tanpa di sentuh sedikit pun oleh psikiater.

Akhirnya pskiater itu datang ke ranjang pemeriksaannya dan bertanya, "Apakah
ada sesuatu yang mau Anda sampaikan?"

"Ya, ada Dok. Saya rasa langit-langit kamar ini sudah perlu dicat." (zam)**

Sikat GIGI

Sikat Gigi

BERGEGAS seorang ibu pergi ke kamar mandi karena mendengar balitanya
menangis. Ternyata si anak menangis karena sikat giginya kecebur ke lubang
WC. Cepat-cepat si ibu mengambilnya, lantas membuangnya ke tempat sampah di
dapur disaksikan balita yang mengikutinya.

Setelah sikat gigi dibuang, si anak berlari lagi ke kamar mandi, Tak lama
kemudian ia muncul lagi sambil membawa sikat gigi ibunya, "Mama. Kalau
begitu, sikat gigi Mama pun harus dibuang. Tiga hari lalu sikat ini jatuh ke
lubang WC," kata si anak. (zam)**

Humor Sufi_Memberi dan Menerima

Memberi dan Menerima

Salah seorang teman Nasruddin suka sekali mengumpulkan uang banyak-banyak. Karena itu, ia cepat sekali menjadi kaya dan sangat kikir.

Suatu hari si kikir berjalan-jalan dengan teman-temannya, termasuk Nasruddin. Ketika melewati tepi sungai, si kikir tergelincir dan jatuh ke sungai. Teman-temannya lari untuk menolongnya. Seorang di antara mereka membungkuk sambil mengulurkan tangan, "Ayo, berikan tanganmu. Nanti akan kutarik ke atas," kata teman itu.

Tapi si kikir diam saja, tak mau mengulurkan tangannya. Seorang teman lain datang dan mengatakan serupa. Tapi si kikir tetap saja tak mau memberikan tangannya untuk diangkat ke atas. Nasruddin datang, lalu membungkuk ke tepi sungai.

"Terimalah tanganku ini kawan, dan aku akan mengangkatmu ke atas sungai," kata Nasruddin. Kali ini si kikir baru bergerak dan mengulurkan tangannya. Setelah itu ia diangkat ke atas.
"Ah, kau seperti tak mengerti saja sifat teman kita ini," kata Nasruddin kepada kawan-kawannya. "Jika kalian berkata 'berikan!' kepadanya, pasti ia akan diam saja. Coba kalian bilang, 'Terimalah wahai kawanku,' pasti ia akan menerimanya."

Humor Sufi _ Si Buta dan Makelar Ternak

Si Buta dan Makelar Ternak
Di sebuah sudut pasar ternak kota Kuffah (Irak), seorang lelaki buta menghampiri seorang makelar ternak. "Tolong bantu carikan aku seekor keledai yang bertubuh tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu besar, yang berlari cepat di jalan sepi, yang berjalan lambat di tengah keramaian, yang bersabar jika kekurangan makan, yang mau berterima kasih jika makanannya berkecukupan, yang bersemangat jika aku naiki sendiri, dan yang tidur jika dinaiki orang lain," katanya.

"Sabar kawan. Nanti jika Allah telah mengubah muka seorang hakim menjadi muka keledai, insya Allah kamu akan mendapatkan keledai yang kamu inginkan itu," jawab si makelar ternak dengan tenangnya.

Humor Sufi_Mutasi

Mutasi
Suatu hari, khalifah al Makmun didatangi sekelompok warga yang bermaksud mengadukan gubernur mereka. "Kalian jangan macam-macam kepadanya. Aku tahu persis ia adalah seorang gubernur yang baik dan berlaku adil terhadap kalian," kata khalifah.

Sesepuh warga yang ditunjuk sebagai pemimpin maju ke depan dan berkata; "Wahai Amirul Mukminin, apa artinya kecintaan ini bagi kami jika tidak dinikmati juga oleh rakyat yang lain? Selama lima tahun ia telah memimpin kami dengan baik dan adil. Karena itu mutasikanlah ia ke wilayah lain, agar keadilannya bisa dinikmati secara mereta oleh seluruh rakyat."

Mendengar itu khalifah tertawa sambil meninggalkan mereka

Humor Sufi_Pergi Ke Dokter

 Pergi ke Dokter

Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan iapun
menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter. Tak lama kemudian Nashruddin
pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa
orang lain. Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di
ranjang, katanya, "Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah
datang juga."

"Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. "Aku tadi hanya minta kamu
memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?"

"Begini Tuan!" jawab Nashruddin, "Dokter biasanya menyuruh kita minum
obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya
membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang
yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa
penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita
memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah
mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan."..;-)

Humor SufI_MEMBELI TELUR

MEMBELI TELUR

Nasruddin pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti
biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya.

Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, "Nashruddin
kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah
mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga
butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian
kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu
telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga
kali ke warung."

Nashruddin menjawab, "Maaf, Tuan,  saya memang salah. Saya tidak akan
mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus
saja nanti supaya cepat beres."



Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan iapun
menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter. Tak lama kemudian Nashruddin
pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa
orang lain. Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di
ranjang, katanya, "Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah
datang juga."

"Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. "Aku tadi hanya minta kamu
memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?"

"Begini Tuan!" jawab Nashruddin, "Dokter biasanya menyuruh kita minum
obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya
membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang
yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa
penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita
memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah
mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan."..;-)

Humor Sufi_JATUHNYA JUBAH

JATUHNYA JUBAH

Nasrudin pulang malam bersam a teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nasrudin sudah menanti dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !" katanya sambil menjewer Nasrudin. Karena kuatnya, Nasrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti.
Mendengar suara gaduh, teman-teman Nasrudin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu, "Ada apa Nasrudin, malam-malam begini ribut sekali?" "Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab Nasrudin.
"Jubah jatuh saja ribut sekali ?"
"Tentu saja," sesal Nasrudin, "Karena aku masih berada di dalamnya."

Humor Sufi_PENYELUNDUP

PENYELUNDUP

Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.
Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya.
"Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan?"
"Jubah," kata Nasrudin, serius

Shikamaru

Shikamaru
Shikamaru